Setiap Mei, kita rayakan reformasi, tapi semangatnya kini bagai lilin redup di ujung usia. Dulu rakyat bersorak untuk kebebasan, kini kebebasan itu cuma topeng yang dipakai rezim. Reformasi yang dijanjikan sebagai jalan perubahan kini mirip teater absurd, dengan aktor-aktor baru yang mainkan naskah lama.
Kita ketahui penegakan hukum di era reformasi tak ubahnya opera sabun. Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas—frasa usang yang tetap relevan. Pejabat bebas berpesta korupsi, rakyat kecil dihukum karena kelaparan. Keadilan? Cuma kata manis di pidato, bukan kenyataan di pengadilan.
Pengangguran melonjak, tapi pemerintah sibuk dengan retorika dan pencitraan, minim kejelasan eksekusi. Rakyat disuguhi janji, tapi lapangan kerja tetap jadi mimpi. Ekonomi rakyat terpuruk, daya beli ambruk.
Dulu Habibie jinakkan rupiah di 6 ribu per dolar. Kini, di era reformasi setelah habibie rupiah merosot ke 16 ribu. Stabilitas ekonomi cuma jargon kampanye, bukan fakta. Pemerintah lebih sibuk koordinasi politik daripada menyelamatkan dompet rakyat.
Aktivis 98, yang dulu berani lawan tirani, kini banyak yang jinak di pelukan kekuasaan. Dari barikade jalanan, mereka pindah ke kursi empuk pemerintahanan. Aktivis kelaparan? Bukan perut, tapi kelaparan akan jabatan. Idealisme mereka kini cuma kenangan.
Rakyat muak dengan janji reformasi yang tak kunjung nyata. Kabinet gemuk, kesannya hanya bagi-bagi kue kekuasaan seperti politik transaksional, bukan solusi. Kepercayaan rakyat luntur, suara kita bagai bisik di tengah badai.
Pemerintah jago berjanji, tapi miskin aksi. Program antikorupsi di atas kertas hebat, tapi praktiknya? Kebocoran anggaran masih merajalela. Transparansi cuma slogan, bukan budaya. Rakyat cuma bisa menonton sandiwara berulang.
Media, yang seharusnya menggonggong, kini jinak seperti kucing peliharaan. Berita kritis lenyap, diganti narasi aman untuk pemerintahan. Kebebasan pers? Hanya ilusi, diikat tali kekuasaan yang tak terlihat.
Anak muda tak lagi kenal reformasi, hanya ketimpangan biasa. Panutan hilang, diganti pejabat yang sibuk selfie dengan kekuasaan. Pemerintahan ini tak beri teladan, hanya drama. Generasi baru harus ciptakan pahlawan sendiri.
Reformasi bukan cuma nostalgia, tapi tugas yang terbengkalai. Pemerintahan ini harus diawasi ketat, bukan cuma didukung buta. Rakyat harus bangun, tuntut kejelasan, pastikan suara kita menggema. Jangan biarkan reformasi mati suri.
Di era reformasi, demokrasi yang diperjuangkan dengan darah dan air mata kini dirusak oleh amplop-amplop yang berkeliaran. Suara rakyat, yang seharusnya menjadi penentu arah bangsa, justru dikhianati dan diterwakilkan oleh transaksi amplop, mengubur cita-cita 1998 dalam sandiwara kepalsuan.
Peringatan reformasi ini harus jadi tamparan. Tanya diri: kita masih punya nyali? Kekuasaan hari ini bukan penutup, tapi ujian. Reformasi butuh napas baru dari rakyat yang tak lagi diam. Bangkit, atau kita cuma penonton di kuburan cita-cita.
Coretan Azral
Aktivis yang pernah berdemonstrasi di era Orde Baru






